Bolehkah Zakat untuk Membangun Masjid?

Bolehkah Zakat untuk Membangun Masjid?

Diasuh oleh DR. H. Armiadi Musa, MA

Pembaca yang dirahmati Allah. Salah satu peruntukan zakat adalah untuk kepentingan di jalan Allah (fiisabilillah). Apakah yang dimaksud dengan fiisabilillah? Bolehkah zakat dari senif fiisabilillah  digunakan untuk membangun masjid ? Simak konsultasi zakat bersama Kepala Baitul Mal Aceh, DR. H. Armiadi Musa, MA berikut ini.

Pertanyaan :

Ustadz pengasuh rubrik konsultasi zakat yang baik, saya ingin bertanya, bolehkah zakat digunakan untuk membangun masjid? Atas jawaban ustadz saya ucapkan terima kasih.

Dari Mukhlis, Ujong Batee-

Jawaban :

Saudara Mukhlis yang dirahmati Allah, dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah menetapkan bahwa salah satu kategori yang memiliki hak atas zakat adalah kegiatan di jalan Allah (fiisabilillah). Akan tetapi hak tersebut belum begitu rinci sehingga membuka ruang tafsir bagi kalangan ulama, salah satunya adalah bagaimana mendefenisikan teks ‘untuk jalan Allah (fiisabilillah)’ pada ayat tersebut.

Telah kita pahami bersama, bahwa mesjid bukan hanya dapat digunakan untuk menunaikan shalat, tetapi juga sebagai pusat dakwah, sarana menyampaikan syi’ar-syi’ar agama, serta identitas yang menunjukkan bahwa di sekitar masjid tersebut terdapat komunitas muslim yang aktif. Nah, merujuk kepada fungsi masjid tersebut, apakah kita dapat mengkategorikan kegiatan pembangunan masjid sebagai salah satu kegiatan fiisabilillah? Terdapat dua pendapat ulama yang berbeda terkait hal ini.

Pendapat pertama adalah pendapat yang menyebut bahwa makna fiisabilillah dibatasi hanya sebagai jihad fi sabilillah dalam arti perang (qital) dan segala sesuatu yang terkait perang, misalnya membeli senjata dan alat perang. Maka menurut jumhur ulama, zakat tidak boleh digunakan untuk membangun masjid, karena membangun masjid tidak termasuk jihad fi sabilillah. Imam Suyuthi, misalnya, menafsirkan fi sabilillah dalam QS At-Taubah : 60 dengan berkata, “Mereka adalah para mujahid (humul mujahidun)”. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas (jumhur) ulama, antara lain pendapat Imam Ath-Thabari, Imam Al-Qurthubi, Imam Ibnul Arabi,  Imam Al-Jashash, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, dan Imam Hambali.

Menurut pendapat ini, pada  awal ayat 60 Qs. At-Taubah terdapat kata “innama” yang memiliki fungsi hashr dan itsbat (pembatasan cakupan dan penetapan) sehingga kata fiisabilillah tidak bisa ditafsirkan dengan semua bentuk kebaikan.  Jika ingin membangun masjid, maka harus dengan dana infaq atau waqaf.

Pendapat kedua adalah pendapat yang menafsirkan fiisabilillah sebagai fiisabililkhaiir, jihad di jalan kebaikan, tidak terbatas pada perang bersenjata. Menurut Imam Ar-Razi dan Imam Al-Kasani misalnya, boleh menggunakan dana zakat untuk membangun mesjid karena kata “fiisabilillah” mencakup semua yang memiliki nilai kebaikan serta segala segi kebaikan lainnya. Pendapat semakna dikemukakan antara lain oleh Imam Al-Khazin, Imam Jamaluddin Al-Qasimi,  Imam Al-Alusi, Sayyid Rasyid Ridho, Sayyid Quthub, dan Syaikh Al-Maraghi.

Prof. Dr. Syaikh Mahmoud Syaltout, salah seorang mufassir dan ulama besar yang pernah menjabat sebagai pemimpin tertinggi Universitas Al-Azhar Cairo, berpendapat bahwa masjid yang dikehendaki untuk didirikan atau diperbaiki, jika merupakan satu-satunya yang ada di suatu tempat, atau ada yang lain tetapi sangat sempit dan tidak dapat menampung penduduk di daerah itu, sehingga dirasa perlunya didirikan masjid yang baru, maka dalam keadaan seperti itu adalah sah  menurut agama membelanjakan uang zakat untuk mendirikan atau memperbaiki masjid dimaksud.

Demikian pula dengan Yusuf Qardhawi dalam fatwa-fatwa kontemporernya menyebut, dana zakat boleh saja digunakan untuk membangun masjid di daerah-daerah yang sedang menghadapi bahaya perang  ideologi  (ghazwul  fikri)  atau yang berada di bawah pengaruhnya. Masjid  di tempat tersebut  bukanlah   semata-mata tempat  ibadah,  melainkan  juga  sekaligus  sebagai  markas perjuangan dan benteng untuk  membela  keluhuran  Islam  dan melindungi syakhshiyah islamiyah.

Pendapat inilah yang dirujuk oleh mayoritas lembaga amil zakat. Saya cenderung kepada pendapat yang mengizinkan penggunaan dana zakat untuk membangun masjid  dengan catatan keberadaan masjid di tempat itu memang sangat mendesak dibutuhkan. Atas dasar pertimbangan itulah Baitul Mal Aceh pernah membangun masjid di daerah-daerah perbatasan dan daerah rawan aqidah untuk membentengi masyarakat muslim minoritas dari ancaman ghazwul fikri.Wallahua’lam bisshawab.