Muallafah Qulūbuhum dalam Pandangan Ulama Fikih dan Tafsir

Muallafah Qulūbuhum dalam Pandangan Ulama Fikih dan Tafsir

OLEH: DR. ANALIANSYAH, M.AG

Tulisan ini menjelaskan pengertian muallafah qulūbuhum yang terdapat dalam surat at-Taubah ayat 60, yaitu ayat yang menjelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima zakat. Secara etimologi, mu’allafat qulūbuhum berarti “orang yang dilunakkan hatinya”. Sebagai salah satu senif penerima zakat, para ulama berbeda. pendapat dalam menentukan siapa orang yang termasuk mu’allafah qulūbuhum.

  1. Pendapat Ulama Fikih Mazhab
  2. Menurut Mazhab Ḥanafī

Sarakhsī dalam kitabnya al-Mabsūṭ menyebutkan, mu’allafat qulūbuhum adalah pemimpin-pemimpin Arab, seperti Abī Sufyan Ibn Ḥarb, Safwān Ibn Umayyah, ‘Uyainah Ibn Ḥasan dan Amra‘ Ibn Ḥabs. Nabi pernah memberikan zakat kepada mereka dengan maksud untuk melunakkan hati mereka terhadap Islam. Ibn ‘Ᾱbidīn dalam kitabnya Radd al-Mukhtarmenyebutkan bahwa makna mu’allafat qulūbuhum meliputi tiga golongan, yaitu:

1)      Orang kafir yang diberi zakat untuk menarik hati mereka terhadap Islam.

2)      Orang kafir yang diberi zakat untuk menghilangkan kejahatan mereka.

3)      Orang yang baru masuk Islam sedang iman mereka masih lemah.

lbn ‘Ᾱbidīn menerangkan bahwa memberikan zakat kepada orang kafir merupakan bagian dari jihad, yaitu untuk menolak kejahatan mereka. Karena menolak kejahatan orang musyrik merupakan jihad yang wajib bagi orang fakir maupun orang kaya. Pada waktu Nabi masih hidup, salah satu bentuk jihad adalah memberikan sebagian dari harta orang fakir untuk menolak kejahatan orang musyrik.

 

  1. Menurut Mazhab Mālikī

Dalam mazhab Mālikī terdapat dua pendapat mengenai mu’allafah qulūbuhum. Pendapat pertama mengatakan muallafat qulūbuhum adalah: orang kafir (yang diberi zakat) untuk mengislamkannya. Pendapat kedua mengatakan golongan ini adalah: Orang yang baru masuk Islam (dan diberi zakat untuk menguatkan keislaman mereka.

Dalam penjelasannya, al-Dasuqī, ulama bermazhab Maliki, menyebutkan bahwa pendapat pertama dikatakan oleh Ibn Ḥabīb, yaitu la membatasi senif mu’allafah qulūbuhumkepada orang kafir. Sedang pendapat kedua dikeluarkan oleh Ibn ‘Arafah. Menurut Ibn ‘Arafah, inilah pendapat yang lebih kuat.

 

  1. Menurut Mazhab Syāfiī

Menurut al-Nawawī, mu’allafah qulūbuhum ini terbagi kepada enam golongan, yang terdiri atas golongan kafir dan muslim. Golongan kafir ini terbagi lagi kepada dua, sedangkanmu’allafah qulūbuhum yang sudah muslim terbagi kepada empat golongan. Golongan kafir adalah: (1). Kelompok yang diharapkan keislamannya. (2). Kelompok yang ditakuti; dikhawatirkan kejahatannya. Sedangkan golongan mu’allafat qulūbuhum yang sudah muslim adalah:

1)      Kepala suku kaum yang muslim yang memiliki kemuliaan, yaitu yang dihormati kaumnnya. Mereka diberi zakat, supaya pengikutnya senang kepada Islam. Nabi pernah memberikan zakat kepada al-Zabarqan Ibn Badr dan ‘Adī Ibn Ḥātim.

2)      Orang yang memeluk Islam sedangkan iman mereka masih lemah. Kepada mereka diberi zakat untuk menguatkan niat mereka. Nabi pernah memberi zakat kepada Abū Sufyān lbn Ḥarb, Aqra‘ Ibn Ḥabs dan Umayyah Ibn Ḥasan. Masing-masing mereka mendapat 104 ekor unta,

3)      Kaum muslimin yang dekat dengan kaum kafir. Jika diberi zakat, mereka akan memerangi orang-orang kafir tersebut.

4)      Kaum muslimin yang dekat dengan kaum ahli zakat (orang yang wajib mengeluarkan zakat), apabila diberi zakat mereka memeranginya dan mengumpulkan zakat mereka secara paksa.

  1. Menurut Mazhab Ḥanbalī

Menurut mazhab Ḥanbalī, mu’allafat qulūbuhum terdiri dari orang kafir dan muslim. Mereka ini adalah pemimpin untuk setiap kaumnya. Bagi orang kafir diberi zakat dengan dua tujuan, yaitu:

1)      Mengharapkan keislamannya

2)      Menghentikan kejahatannya.

Sedangkan bagi orang muslim adalah:

1)      Menguatkan iman mereka.

2)      Mengharapkan keislaman pengikutnya.

3)      Mengharapkan keikhlasan mereka dalam berjihad atau Melindungi kaum muslimin yang berada di perbatasan dengan orang kafir. Bila kepada mereka diberi zakat, mereka akan mengusir orang kafir yang berdekatan dengan orang muslim.

4)      Menghilangkan kejahatan mereka, seperti kaum khawarij.

5)      Kegigihan mereka untuk mengumpulkan zakat dari orang yang tidak bersedia mengeluarkan zakatnya.

  1. Pendapat Ulama Tafsir
  2. Menarut al-Ṭabarī

Al-Ṭabarī menyebutkan beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa kelompok mu’allaf ini terbagi kepada dua kelompok, yaitu:

1). Pembesar-pembesar Quraisy. Kepada mereka diberi zakat untuk melunakkan hati mereka, sehingga dapat diharapkan kebaikan dirinya dan sukunya.

2). Kaum Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam.

Menurut al-Ṭabarī, Nabi pernah memberikan sejumlah harta kepada dua kelompok di atas. Pemberian ini dipahami sebagai zakat untuk melunakkan hati mereka. Atas dasar inilah makna mu’aldafat qulūbuhum beliau tetapkan.

 

  1. Menurut al-Qurṭubī

Al-Qurṭubī meriwayatkan empat riwayat mengenai golongan mu’allaf. Beliau tidak melakukan tarjīḥ terhadap salah satu riwayat tersebut. Dengan demikian penulis berkesimpulan bahwa al-Qurṭubī menggunakan keempat riwayat yang beliau kutip sebagai penjelas terhadap golongan mu’allaf ini. Keempat golongan tersebut adalah:

1).   Orang Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam. Kepada mereka diberi zakat meskipun dalam keadaan kaya.

2).   Orang kafir yang diberi zakat untuk membalikkan hati mereka kepada Islam. Mereka ini tidak diislamkan dengan pedang dan kekerasan, melainkan dengan pemberian dan kebaikan.

3). Orang yang pada zahirnya saja masuk Islam, tetapi mereka belum yakin sepenuhnya. Dengan kata lain iman mereka masih lemah. Kepada mereka diberi zakat untuk menetapkan Islam di dada mereka.

4). Pembesar-pembesar kaum musyrikin yang memiliki pengikut. Mereka diberi untuk melunakkan pengikut mereka terhadap Islam. Dengan demikian diharapkan pengikutnya mau memeluk Islam.

 

  1. Menurut Muhammad Rasyīd Riḍa

Mereka ini adalah jamaah yang ingin dilunakkan hatinya dengan mengharapkan mereka masuk Islam, menguatkan niat mereka terhadap Islam, menghilangkan kejahatan mereka terhadap kaum muslimin atau mengharapkan manfaat dalam menghilangkan permusuhan dengan mereka. Rasyīd Riḍa membagi mu’allaf kepada enam golongan. Empat golongan orang Islam dan dua golongan orang kafir. Pembagian kepada enam golongan ini sesuai dengan pembagian yang dilakukan oleh ulama mazhab Syāfi‘ī. Pembagian ini secara rinci tidak disebutkan lagi karena telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan ulama fiqh mazhab.

 

  1. Menurut Muḥammad Alī al-Sāis

Muhammad ‘Alī al-Sāis menjelaskan, ulama membagi golongan ini kepada dua, yaitu golongan kafir dan muslim. Adapun orang kafir diberi zakat untuk melunakkan hati mereka supaya cenderung terhadap Islam dan menghindarkan kejahatan mereka dari kaum muslimin. Sedangkan golongan muslim terbagi kepada tiga, yaitu:

1). Mereka yang telah memeluk Islam, namun niat mereka terhadap Islam masih lemah. Mereka diberi zakat untuk menguatkan niat mereka.

2). Kaum yang melindungi jamaah kaum muslimin dari orang-orang kafir. Apabila diberi zakat, mereka berperang untuk kepentingan orang Islam.

3). Kaum yang berdekatan dengan kaum ahl zakat, apabila diberi zakat mereka mengumpulkan zakat dari mereka. (Wallahu a’lam bishshawab).

 

 

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Majalah Baitul Mal Suara Darussalam