Workshop Wakaf Produktif

Terlalu banyak harta wakaf tersebar di seluruh Aceh, namun sejauh ini pengelolaannya masih jauh dari yang diharapkan sehingga banyak harta-harta wakaf yang tidak produktif.  Belum lagi sejumlah tanah wakaf di Provinsi Aceh ditarik kembali dan dipersengketakan oleh keluarga si pewaqaf, hal itu terjadi di sejumlah tempat dikarenakan harta-harta wakaf tidak memiliki bukti kuat, karena saat mewakafkan hartanya, si muwaqif hanya menyampaikan secara lisan. Hal demikian terungkap pada Seminar Wakaf Produktif dan Workshop Wirausaha Pemula di Balaikota Banda Aceh, Sabtu-Minggu (22-23 Agustus 2015) yang dilaksanakan LPPEKOP BKPRMI Kota Banda Aceh bekerjasama dengan Baitul Mal Aceh.

Kepala Baitul Mal Kota Banda Aceh Safwani Zainun yang hadir pada kegiatan itu mengakui harus dibangun koordinasi diantara pihak-pihak yang mengurusi harta wakaf di Aceh seperti Kantor Kementrian Agama dan Badan Baitul Mal itu sendiri.

Diakui Safwani, salah satu titik kelemahan dalam pengurusan harta wakaf di Aceh adalah pada Nazhir wakaf. Menurutnya, Baitul Mal gampong harus rutin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap nazhri wakaf, jika tidak maka dipastikan tidak akan ada perubahan pada pengelolaan harta wakaf di provinsi yang menjalankan syariat Islam.

“Kita tetap melakukan sosialisai terus menerus kepada nazhir wakaf, karena mereka tersebar di gampong-gampong, maka yang paling berperan adalah baitul mal gampong. Karena Baitul Mal sendiri saat ini hanya menjalankan fungsi regulator, sedangkan data-data harta wakaf itu ada di Kantor kemenag  dan KUA di tingkat kecamatan,”ujarnya.

Berdasarkan data Badan Wakaf Indonesia (BWI), aset wakaf di Aceh kebanyakan berupa tanah, seperti tanah sawah, kebun, tambak dan sebagainya, sebagian dari tanah tersebut di manfaatkan untuk mendirikan masjid, rumah sekolah, rumah sakit dan pemakaman umum. Sesuai dengan data di Kementerian Agama, tanah wakaf di 23 kabupaten/kota di Aceh berjumlah 21.862 lokasi dengan luas 183,14 juta meter persegi.  Dari jumlah tersebut yang sudah memiliki sertifikat baru 12.649 lokasi.

Wirausaha Pemula

Sementara itu, Direktur Daerah LPPEKOP BKPRMI Banda Aceh,  Fauzan Rusdi menyatakan bahwa kegiatan ini dilakuan untuk menjawab kegelisahan anak muda Kota Banda Aceh atas terbatasnya lowongan pekerjaan serta memotivasi anak muda menjadi para wirausaha pemula. Untuk itu, kita gandeng Badan Baitul Mal Aceh dengan menggelar seminar wakaf produktif yang dilanjutkan dengan workshop wirausaha pemula.

“Kegiatan ini hadiri sedikitnya 150 orang, terdiri dari 90 nazhir wakaf gampong dan 100 calon wirausahawan berbasis masjid yang ada di Kota Banda Aceh. Selain Baitul Mal, kita juga galang dukungan teman-teman pengusaha yang sukses di Banda Aceh untuk mengisi worshop tersebut,” ungkap Fauzan, pengusaha Vulkanisir ban bekas ‘Kutaradja’.

Kita membayangkan, sebut Fauzan, tiga sampai lima tahun ke depan, anak muda yang hari ini belum bekerja di sektor formal akan mengisi sisi kehidupannya dengan giat bekerja di sektor non formal yang justru menanti tangan-tangan trampil anak Banda Aceh dari berbagai sisi kebutuhan pasar, menghadapi pertaruhan global. “Insya Allah, workshop semacam ini akan terus kita laksanakan dengan dukungan semua pihak.  Semoga mereka yang ikut workshop akan menjadi wirausaha yang tangguh dan ‘tahan banting’,” papar Fauzan didamping T. Adriansyah Ketua Umum BKPRMI Banda Aceh.  (Ridha Yunawardi).