Amil Zakat Profesional

Amil Zakat Profesional

Oleh Sayed Muhammad Husen

Salah satu kewajiban pemeluk Islam adalah menunaikan zakat bagi yang harta/penghasilannya telah mencapai nishab (penghasilan setahun senilai 94 gram emas). Kewajiban zakat maal (harta/penghasilan) ini ditunaikan selain kewajiban zakat fitrah setiap bulan suci Ramadhan. Menunaikan zakat merupakan kesempuranaan seorang muslim setelah mengerjakan shalat, puasa dan haji (bagi yang mampu).

Kewajiban membayar zakat dapat kita lihat pada firman Allah Swt: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS At-Taubah: 103).

Zakat yang dipungut di Aceh telah diatur dengan regulasi dalam bentuk Qanun Aceh Nomor 10 tahun 2007 tentang Baitul Mal. Jenis zakatnya mencakup: zakat fitrah, zakat emas, perak, logam mulia dan uang; zakat perdagangan dan perusahaan; zakat perindustrian; zakat pertanian, perkebunan dan perikanan; zakat peternakan; zakat pertambangan; zakat pendapatan dan jasa dan zakat rikaz (pasal 18 dan 19).

Menurut Al-Quran dan sunnah rasul, zakat dipungut dan disalurkan oleh amil zakat. Hal ini dapat kita lihat dari firman Allah Swt:  “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah: 60)

Kita perhatikan juga hadits Rasululklah Saw: “Nabi Muhammad Saw ketika mengutus Muadz ke Yaman bersabda…Dan beritahukan kepada mereka bahwa Allah Swt mewajibkan zakat yang diambil dari harta orang kaya diantara mereka dan dikembalikan kepada para orang miskin diantara mereka.” (HR Bukhari – Muslim dari Ibnu Abbas).

“Rasulullah Saw menugaskan seorang laki-laki dari Bani Al-Usdi yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai amil zakat di daerah Bani Sulaim, kemudian Rasulullah Saw melakukan evaluasi atas tugas yang telah ia laksanakan.” (HR Bukhari – Muslim dari Abi Hanid Al-Saa’idy).

Dalam konteks Indonesia sekarang ini, kita mengenal badan/lembaga amil dan karyawan/pegawai amil. Badan amil yaitu Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau Baitul Mal (khusus di Aceh), yang dibentuk atas inisiatif pemeritah. Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah badan amil non pemerintah. Selain itu, terdapat pegawai/karyawan amil yang bekerja pada BAZNAS, LAZ atau Baitul Mal.

Sementara di Aceh dikenal dengan Badan Amil Baitul Mal, yang dibentuk pada tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga gampong-gampong di seluruh Aceh. Pada Baitul Mal Aceh dan Kab/Kota dipekerjaan pegawai/karyawan amil yang terdiri dari Badan Pelaksana (amil swasta) dan Sekretariat (amil PNS). Sementara Baitul Mal Gampong sepenuhnya dikelola oleh masyarakat gampong.

Amil profesional

Seorang amil harus memenuhi syarat: beragama Islam, berakhlak mulia, berakal, baligh, amanah, dan memiliki ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum zakat. Amil juga harus memiliki ilmu dan keterampilan yang mendukung pekerjaannya sebagai amil. Sebagai amil profesional tentu harus melewati proses rekrutmen, training/magang dan pelatihan-pelatihan pengembangan karier.

Kita dapat membedakan amil profesional dengan amil volunteer. Amil profesional bekerja dengan keahlian yang dimiliki, sepenuh waktu bekerja untuk kemajuan dan pengembangan badan/lembaga amil, serta mendapatkan hak dan kewajibannya sebagai pegawai/karyawan amil. Misalnya, seorang amil memperoleh gaji/honor yang cukup, mendapatkan proteksi dan jaminan keberlanjutan pekerjaannya sebagai amil.

Sementara amil volunteer hanya bekerja paruh waktu untuk satu pekerjaan amil yang dibutuhkan, misalnya amil zakat fitrah yang hanya bekerja paling lama seminggu. Demikian juga amil zakat di gampong-gampong dalam mengurus zakat pertanian, perdagangan dan zakat lainnya bekerja sekitar seminggu saja.  Jika perlu kerja berkelanjutan pun paling membutuhkan waktu satu jam setiap hari.

Dalam melaksanakan  tugas, amil profesional melakukan pekerjaan utama dalam bentuk mengumpulkan, mengelola dan mendistribusikan zakat. Pekerjaan mengumpulkan zakat dilakukan dari pendataan/sensus muzakki (wajib zakat), sosialisasi dan edukasi, hingga menjemput zakat. Amil mempermudah muzakki dalam membayar zakat, misalnya melengkapi perangkat teknologi informasi, bekerjasama dengan perbankan atau dunia usaha sebagai mitra.

Pengumpulan zakat di Aceh bagi PNS pada Pemerintah Aceh, Pemerintah Kab/Kota dan instansi vertikal dipungut dengan pembentukan UPZ (Unit Pengumpul Zakat) dan pemungutan langsung melalui Bendahara Umum Aceh/Kab/Kota. Dengan cara menggunakan tangan kekuasaan ini, diharapkan pengumpulan zakat lebih efektif, sehingga pendapatan zakat sebagai Pendapatan Asli Aceh (PAA) dan Pendapatan Asli Kab/Kota (PAK) dapat diprediksi tingkat pertumbuhannya.

Amil mendistribusikan zakat sesuai dengan ketentuan syariah, memperhatikan ketentuan Al-Quran surat At-Taubah ayat 60, yaitu zakat dibagi kepada delapan senif. Dari pengalaman selama 11 tahun terakhir di Aceh, zakat tidak dibagikan kepada senif riqab (membebaskan budak), sebab belum dapat didefinisikan siapa yang masih layak dianggap sebagai budak sekarang ini.  Zakat disalurkan dalam bentuk program kegiatan konsumtif dan produktif.

Selain itu, amil melakukan pengelolaan terhadap zakat yang disalurkan melalui program kegiatan berkelanjutan, misalnya zakat diberdayakan dalam bentuk beasiswa, modal usaha, pelatihan dan fakir uzur. Program kegiatan ini membutuhkan fasilitasi yang memadai terhadap amil, sebab dikerjakan dengan tingkat kerumitan tersendiri dan membutuhkan sarana dan prasarana pendukung. Termasuk diperlukan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Supaya amil dapat bekerja profesional, apalagi pada Badan Amil seperti Baitul Mal, harus didukung dengan biaya operasional yang cukup.  Karena itu, dalam ketentuan Qanun 10/2007 pasal 43 disebutkan, bahwa biaya operasional Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kab/Kota dibebankan kepada APBA dan APBK. Sementara operasional Baitul Mal Gampong dibebankan kepada  senif amil zakat.

Pengalaman selama ini, tidak semua pemerintah kab/kota di Aceh menyediakan biaya operasional yang cukup untuk operasional Baitul Mal. Masih ada Pemkab/Kota yang belum membayar gaji/honor amil dengan layak. Hal ini terjadi akibat berbagai alasan, antara lain: dana Pemkab/kota yang kurang, pemahaman eksekutif dan legislatif terhadap pentingnya amil profesional dan biaya operasional cukup dibebankan pada senif amil.

Karena itu, amil profesional harus berhati-hati dalam bekerja, supaya tidak terjebak korupsi terutama akibat penghasilan yang minim. Untuk itu, gaji/honor amil harus direncanakan dan dibayar sesuai standar penghasilan yang layak, melengkapi regulasi yang diperlukan dan tidak mengambil yang bukan haknya sebagai amil. Jika gaji/honor amil dianggap belum memadai, maka perlu dilakukan advokasi agar dibayar dengan jumlah yang wajar.

Rasulullah telah mengingatkan amil melalui sabda beliau: “Dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu a’laihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya, dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”. Beliau bersabda: “Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah? Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini, kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya,  sehingga terlihat oleh kami ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukankah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan,” sebanyak tiga kali.“  (Hadist Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim)

Semoga saja  badan amil, pegawai atau karyawan amil dapat mempedomani hadits ini. Tidak menerima atau mengambil yang bukan haknya. Demikianlah amil profesional dan amanah. Dia bekerja dengan ikhlas dan bagian dari ibadahnya kepada Allah Swt. Hanya kepada mustahik dia berpihak dan selalu mendoakan muzakki.  Dengan kareirnya pula amil manggapai ridha Allah Swt dan surgaNya.

Tulisan ini dimuat di Buletin Iqra’ Edisi X/Oktober 2015