BMA Raih Penghargaan Manajemen Kelembagaan Zakat Terbaik

BMA Raih Penghargaan Manajemen Kelembagaan Zakat Terbaik

Baitul Mal Aceh terpilih sebagai juara pertama kategori Manajemen Kelembagaan Zakat terbaik se-Indonesia pada Zakat Awards 2015. Perghargaan tersebut diserahkan langsung Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, Kamis (19/11).

Zakat Awards tahun 2015 diberikan untuk dua kategori yaitu manajemen kelembagaan dan pengelolaan zakat. Untuk manajemen kelembagaan dimenangkan oleh Baitul Mal Aceh dengan nilai 1.289. Sedangkan kategori pengelolaan zakat dimenangkan oleh Baznas Provinsi Banten dengan nilai 1.295.

Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA mengatakan sebelum putusan hakim terpilihnya Baitu Mal Aceh sebagai juara pertama, tim verifikasi dari Zakat Awards telah turun ke seluruh Indonesia termasuk ke Aceh untuk meminta dokumen.

“Setelah proses administrasi selesai, maka kami diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan apa yang telah kami kirim dan bagaimana pengelolaan zakat di Baitul Mal Aceh selama ini,” ujar Armiadi usai presentasi di Jakarta.

Armiadi menjelaskan award yang diperoleh Baitul Mal sejatinya menjadi motivasi bagi amil ke depan untuk terus meningkatkannya. Apalagi Baitul Mal sedang bertekad memperoleh Internasional Standart Organisation (ISO), sehingga sejalan dengan perolehan penghargaan ini.

“Saya berharap ini menjadi babak awal bagi Baitul Mal sebagai lembaga pengentas kemiskinan di Aceh,” harapnya.

Sementara itu, Menag RI Lukman Hakim menegaskan bahwa penganugerahan Zakat Awards akan menjadi salah satu program unggulan Kemenag. Sudah menjadi tugas Kemenag untuk melakukan pembinaan, pengawasan dan penilaian atas pencapaian kinerja lembaga pengelolaan zakat di Seluruh Tanah Air.

Menag berharap, akan ada penilaian juga kepada Lembaga Amil Zakat (LAZ) tahun depan. Menag yakin, Baznas dan LAZ mampu berperan aktif dalam pengentasan kemiskinan di Republik ini. “Selamat kepada Baznas provinsi dan kabupaten/kota yang tahun ini masuk nominasi,” terang Menag.

Menurutnya,  pengelolaan zakat harus terintegrasi dalam satu sistem, diaudit secara syari’ah oleh Kemenag dan audit keuangan oleh akuntan Publik, sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga.

“Baznas dan LAZ harus terus meningkatkan profesionalisme, akuntabilitas publik dan menjaga amanah para amil. Kita harus berorientasi untuk memuliakan umat. Karenanya, Baznas dan LAZ harus selalu dekat dengan persoalan-persoalan riil masyarakat dan tidak menjadi menara gading di tengah kehidupan umat,” ujar Menag.[]