Konsep Fisabilillah Menurut Yusuf Qardhawi

Konsep Fisabilillah Menurut Yusuf Qardhawi

Yusuf Qaradawi lahir di desa bernama Shaft Turab, Republik Arab Mesir. Secara geografis desa ini menjadi penengah bagi dua kota, yaitu kota Tanta (ibu kota propinsi al-Garbiyah dan kota al-Muhalla, ibu kota kabupaten Markaz), Mesir. Qaradawi lahir pada tanggal 9 September 1926. Namanya Yusuf bin Abdullah bin `Ali bin Yusuf. Nama Yusuf yang diberikan kepadanya merupakan adopsi dari nama paman garis pihak ayah yang meninggal dunia dalam usia muda. Nama paman ini pun nisbah kepada nama buyutnya.[30]

Pada usia 10 tahun Qaradawi telah menghafal al-Qur`an dan kitab Tuhfah, sebuah risalah tentang tajwid. Pada umur tujuh tahun, ia sekolah al-Zamiyah sebagai tempat pendidikan waktu itu. Letaknya berdekatan dengan desa kelahirannya. Di sekolah ini, corak pemikirannya belum bersifat kritis dan analisis. Corak pemikiran tersebut baru didapatnya pada Ma`had al-Diniy dan Tsawi di Tanta. Qaradawi mendapat pengajaran baru dari Ma`had ini. Ilmu fiqih yang dipelajarinya dari salah seoerang guru, bernama Abdul Mutallib al-Batta yang beraliran Hanafi. Sehingga corak pemukiran mazhab Hanafi telah mempengaruhi pola pikirnya dan peran logika lebih dominan, selain berpegang kepada nas.

Qaradawi melanjutkan studi S I pada fakultas Ushuluddin di Universitas al-Azhar, Kairo. Ia lulus sebagai sarjana S I pada tahun 1952, dan meraih rangking pertama dari mahasiswa yang berjumlah seratus delapan puluh orang. Guru-guru yang banyak memberikan ilmu kepadanya selama di S I adalah: Mukhtar Qatar, Muhammad Amin Abu al-Rauf (tafsir), Muhammad Ahmadain dan Abdul Hamid al-Syazali (Hadis), Salilih Syaraf al-`Isawi, Muhammad Yusuf dan al-Syafi al-Zawahiri (tauhid), Muhammad Ghalab (filsafat Timur dan Yunani), Abdul Halim Mahmud (filsafat Islam dan filsafat modern), Tayyib Najjr (usul fiqih), `Ali al-Ghalabi (aliran-aliran Islam), ditambah beberapa orang lainnya. Dari Ikhwan al-Muslim, selama di al-Azhar, Qaradawi sering mendapat ilmu dari: Muhammad al-Ghazali, Sayid Sabiq, Bahi al-Khuli, dan ditambah dari Baitu al-Hikmah, yaitu Mahmud Syaltut.

Selesai pendidikan S I, Qaradawi melanjutkan kuliah jurusan bahasa Arab selama dua tahun. Pendidikan di lembaga Tinggi Riset dan Penelitian masalah-masalah Islam diikuti setelah belajar bahasa Arab. S2 nya ditempuh pada tahun 1960. Sedangkan S3 diselesaikan tahun 1973 dengan disertasi berjudul Fiqh al-Zakat, dengan peringkat summa cum laude.[31] Pada tahun 1973 didirikan fakultas Tarbiyah, yang merupakan cikal bakal Universitas Qatar. Qaradawi ditugaskan di sini untuk mendirikan jurusan Studi Islam dan sekaligus menjadi ketuanya, dan pada tahun 1977 ia ditugaskan untuk pendirian dan sekaligus menjadi dekan pertama fakultas Syariah dan Studi Islam di Universitas Qatar. Pada tahun 1411 H, ia mendapat penghargaan dari IDB (Islamic Development Bank, Bank Pembangunan Islam) atas jasa-jasanya dalam bidang perbankan. Sedangkan pada tahun 1413 H, ia bersama-sama dengan Sayyid Sabiq mendapat penghargaan dari King Faisal Award karena jasa-jasanya dalam bidang keislaman. Dan pada tahun 1996 ia mendapat penghargaan dari Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia, serta pada tahun 1997 mendapat penghargaan dari Sultan Brunai Darussalam atas jasa-jasanya dalam bidang fiqih. Penghargaan dari al-`Uwais, berkat sumbangannya dalam ilmu pengetahuan, pada tahun 1999/1420 H.[32]

Adapun mengenai keaktifan Qaradawi dalam berbagai lembaga keislaman, ekonomi dan riset, di antaranya dapat penulis sebutkan sebagai berikut:

  1. Anggota Lembaga Fiqih Islam yang berafiliasi pada Liga Muslim Dunia yang berpusat di Makkah.
  2. Tenaga Ahli Lembaga Riset Fiqih yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
  3. Wakil Dewan Pengawas Internasional untuk masalah zakat, yang ada di Kuwait.
  4. Anggota Majlis Dana Islam di Qatar untuk zakat dan sedekah.
  5. Ketua Dewan Pengawas Bank Islam Qatar.
  6. Ketua Dewan Pengawas Bank Islam Qatar Internasional.
  7. Ketua Dewan Pengawas Bank Taqwa di Swiss.
  8. Ketua Majlis Fatwa dan Riset untuk Eropa.

Beberapa karya Qaradawi, khususnya dalam bidang fiqih dan ekonomi Islam dapat ditampilkan, sebagai berikut: Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam (halal dan haram dalam Islam),Fatawa Mu`asirah, I, II, III (fatwa-fatwa kontemporer), Al-Ijtihad al-Mu`asir baina Indibat wa al-Infirat(ijtihad kontemporer kode etik dan berbagai penyimpangan), Musykilat al-Faqr wa Kaifa `Alajaha al-Islam (problema kemiskinan, apa konsep Islam), Al-`Ibadah fi al-Islam, Dauru al-Zakat fi `Ilaj al-Musykilat al-Iqtisadiyyah (spektrum zakat dalam membangun ekonomi kerakyatan), dan Fiqh al-Zakat (hukum zakat) yang dianggap sebagai salah satu karya ilmiah terbesar di zaman ini.

  1. Maqasid al-Syari`ah Fisabilillah

Wahbah al-Zuhaily menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Maqasid al-Syari`ah adalah beberapa sasaran untuk dapat memelihara syari`at dan inti dari syari`at itu sendiri, serta rahasia-rahasia yang telah dibuat oleh Tuhan (Syari`) dan Nabi pada hukum-hukum yang ada.[33]

Lebih lanjut Al-Syatibi menyatakan bahwa hukum-hukum yang disyari`atkan (termasuk pensyari`atan zakat dan pendistribusiannya) adalah untuk kemaslahatan hamba. Maslahat yang ingin dicapai dalam tasyri`i hanyalah yang bersifat umum secara mutlak, bukan yang bersifat khusus. Menurutnya kandungan maqasid al-syari`ah atau tujuan umum adalah kemaslahatan umat manusia dalam arti hakiki, yaitu merealisasikan kemaslahatan hamba, dan menolak kerusakan untuk kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, bukan kemaslahatan yang berdasarkan hawa nafsu atau tradisi.[34]

Berangkat dari uraian tentang maqasid al-Syari`ah di atas dapat dipahami, bahwa pendistribusian zakat terutama kepada senif yang ketujuh yaitu fisabilillah adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum dan memelihara agama dari berbagai hal yang mengganggu kepentingan agama. Dan membentengi umat Islam dari berbagai pengaruh yang menyesatkan. Untuk ini diperlukan mujahid-mujahid yang siap membentengi muslimin. Mujahid yang dimaksud tidak terbatas dengan pejuang atau berperang tetapi lebih jauh lagi adalah berjuang melalui lisan, tulisan dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat membangkitan kekuatan Islam diseluruh dunia.

Untuk merealisasikan tujuan ini, perlu memformulasikan makna fisabilillah yang tercantum dalam ayat zakat sesuai dengan maqasid al-syari`ah Kata fisabilillah dipahami ulama klasik sebagai pejuang yang terlibat dalam peperangan, baik keterlibatan langsung maupun tidak, termasuk di dalamnya pembelian senjata, pembangunan benteng dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masa itu.[35]

Dalam konteks kekinian musuh-musuh Islam tidak lagi berperang dengan menggunakan senjata seperti pada masa Rasul dan para sahabatnya. Melainkan telah terjadi bermacam-macam bentuk  peperangan dengan criteria yang lain diberbagai bidang seperti perang akidah, ekonomi, sosial, budaya dan hukum. Untuk ini perlu ditinjau kembali makna fisabililah.

Kini, sekian banyak ulama kontemporer memasukkan dalam kelompok fisabilillah kegiatan social, baik yang dikelola oleh perorangan maupun organisasi-organisasi Islam, seperti pembangunan lembaga pendidikan, mesjid, rumah sakit, dan lain-lain. Dengan alasan bahwa kata “fisabilillah” dari segi kebahasaan mencakup segala aktivitas yang mengantar menuju jalan dan keridhaan Allah. Ini adalah pintu yang sangat luas mencakup semua kemaslahatan umum.[36]

Peperangan dalam berbagai bidang yang dimaksud itu adalah, dalam bidang politik kaum Barat lebih berpihak kepada Israel ketimbang membela Palestina atau menciptakan perdamaian dunia, Mereka menerapkan nilai-nilai demokrasi dan menjaga Ham, serta melindungi kaum tertindas. Sedangkan bagi kaum muslimin, Barat mendukung dictator dan demokrasi palsu.

Dalam bidang ekonomi, terjadi penindasan bangsa-bangsa maju terhadap negara-negara berkembang, sehingga nilai moralitas dan keadilan tidak pernah terwujud. Hakikatnya globalisasi ekonomi adalah penindasan kaum Muslimin supaya tidak mandiri dan selalu bergantumg diri kepada Barat. Akhirnya marwah bangsa-bangsa Islam di dunia tidak ada lagi.

Selanjutnya dalam bidang budaya, diupayakan agar budaya Barat mewarnai seluruh dunia, baik Muslim maupun non muslim. Globalisasi budaya ini dimaksudkan menghancurkan ketauhidan agama-agama samawi, yakni, globalisasi budaya bertujuan melepaskan kita dan identitas kepribadian Islam dan menawarkan pola pemikiran dan hidup Barat, sehingga nilai-nilai keislaman hilang dan hancur.[37]

Globalisasi agama, pihak anti Islam berupaya keras mengembangkan agama lain terhadap muslimin. Hal itu terealisasi melalui kekuatan militer, ekonomi, politik, teknologi, media massa, komunikasi, dan informasi yang dimilikinya. Dalam globalisasi bidang pendidikan, Islam telah tertinggal dari pihak luar. Ketertinggalan itu telah membawa umat ini pada ketidakmartabat dipertarungan dunia. Pada akhirnya ia akan tersingkir dari kemajuan yang dicapai dunia modern. Selain tertinggal, pendidikan dalam Islam juga telah dipengaruhi ole ide-ide sekuler, komunis, kapitalis dan atheis. Maka, untuk memajukan kembali umat dan ajaran Islam pengembangan dan mendirikan pendidikan berbasis Islam perlu dilaksanakan. Usaha itu digolongkan dalam sabilillah, sebagai senif yang dapat diberikan zakat.[38]

Alasan-alasan inilah yang mendorong untuk menafsirkan makna sabilillah mencakup segala aspek kebaikan yang bertujuan menciptakan kemaslahatan umat dunia akhirat untuk mencari ridha Allah. Tanpa alasan ini, maka sabilillah tidak lagi bermakna dalam kondisi sekarang.

Perluasan makna fisabilillah dapat dilakukan dengan melihat kepada metode penalaran bayani (kebahasaan) yaitu dengan memperluas maknafisabilillah secara umum yaitu jihad atau segala usaha yang dapat menciptakan kemaslahatan umat dan menjauhkan mereka dari kerusakan. Jihad bila diaplikasikan maknanya tidak hanya terbatas pada berperang dengan senjata semata, melainkan dapat dilakukan dengan tulisan dan ucapan sebagaimana bisa dilakukan pula dengan pedang dan pisau. Kadangkala jihad dilakukan dalam bidang pemikiran, pendidikan, sosial, ekonomi, politik, sebagimana halnya dilakukan dengan kekuatan bala tentara. Seluruh jenis jihad ini membutuhkan bantuan dan dorongan materi.

Kemudian makna sabilillah dipahami secara metode ta`lili (penalaran yang tertumpu pada `illat atau rasio logis) sehingga yang menjadi `illat pendistribusian zakat kepada senif fisablilillah adalah karena jihad. Bila ini sebagai `illat, maka dimungkinkan untuk memperluas makna jihad kepada segala kegiatan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat dan meninggikan Islam, termasuk dalam cakupan makna jihad.

Metode selanjutnya yang digunakan untuk memperluas makna fisabilillah adalah metode istislahi (pola penalaran yang tertumpu pada dalil-dalil umum). Metode ini berusaha mendeduksi tujuan-tujuan umum syari`at serta menyusun kategori guna menentukan skala prioritas. Dalam hal ini ada tiga skala prioritas, yaitu: Pertama, yang penting dan harus terpenuhi untuk kelangsungan hidup manusia, ini mencakup memelihara agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan disebut dharuriyat. Kedua, yang dibutuhkan manusia untuk melindungi kebutuhannya disebut hajiyyat. Ketiga, yang melindungi kebutuhan komplementer disebut tahsiniyyat.[39]

Dalam pola penalaran istislahi ada beberapa persyaratan pada aplikasi hukum yang didasarkan padanya, bukan sekedar anggapan yang bersifat stereotype (prasangka). Artinya aplikasi hukum tersebut dapat menjamin terealisasinya kemaslahatan umat. Kemaslahatan hendaknya menyangkut hajat dan kepentingan orang banyak. Dan hukum yang dihasilkan dari penalaran istislahi tidak berujung pada terabaikannya suatu prinsip yang ditetapkan oleh al-Qur`an maupun Hadits.[40]

Berangkat dari statement ini, maka kata “sabilillah” dengan makna jihat atau pengertian yang lebih umum dapat direalisasikan atau diformulasikan kembali demi kemaslahatan umat dalam skala prioritas yang mencakup bidang agama, akal, harta, jiwa dan keturunan. Dengan perluasan makna ini berarti telah mencapai tujuan Syari`at (maqasid al-syari`ah) di balik perintah dan larangan yang terdapat dalam al-Qur`an.

sumber: epistemologi