Pendidikan Merupakan  Modal Terciptanya SDM  Berkarakter

Pendidikan Merupakan Modal Terciptanya SDM Berkarakter

Pendidikan merupakan jalan utama membentuk karakter seseorangsehingga menjadi pribadi mulia. Melalui pendidikan pula diharapkan muncul generasi yang memiliki kemampuan untuk menata masadepan di suatu daerah. Untuk memajuk pendidikan, khususnya Aceh, sudah saatnya bagi lembaga berwenang menentukan ke mana arah pendidikan Aceh ke depan. Lebih jauh, wartawan majalah ini Zulfurqan mewawancarai Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Prof Dr Syamsul Rizal MA. Berikut petikan wawancaranya.

  • WAWANCARA

Prof, melihat kondisi pendidikan Aceh, apa yang perlu dilakukan untuk memajukannya?

Dalam konteks terkini, untuk memajukan pendidikan, Aceh perlu memetakan potensi sumber daya manusia yang harus digerakkan melalui edukasi. Kehidupan modern di masa akan datang tawarannya adalah kehadiran Islam harus bisa merespons berbagai problematika kehidupan. Saatnya, pihak yang berwenang me- metakan sumber daya manusia. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya basis pemaknaan keislaman, tetapi juga bagaimana pendidikan itu bisa memberikan rasional, sumber daya manusia yang memiliki keterampilan baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, atau teknik. Orang-orang Aceh harus hadir dengan beragam potensi sumber budaya, harus lahir sebagai pakar hukum, pakar budaya, dan pakar ekonomi, sekaligus pelaku nilai-nilai budaya keacehan dan ekonomi. Jadi pendidikan itu saya pikir diarahkan ke entrepreneur.

Bagaimana peran keluarga terhadap dunia pendidikan?

Karena dalam konteks keislaman Aceh berbasiskan syariat, tanggung jawab keluargalah yang membentengi akidah daripada seluruh warga. Dari (usia anak) nol tahun sampai mene- ngah pertama, persoalan akidah seha- rusnya sudah selesai. Di atasnya itu baru diarahkanmenjadisumberdayamanusia berkarakter yang mampu merespons sosiokultural tersendiri. Revolusi 4.0, di segala lini kita harus siap.

Dulu mantan Gubernur Aceh, Ibrahim Hasan membuat zonasi, ada zonasi pertanian dan pendidikan. Maka saya pikir, dalam zona pertanian harus lahir sumber daya manusia yang bisa merespons kemajuan pertanian, terampil, dan terdidik bisa melangkah ke dunia industri. Itu yang kita inginkan terjadi.

Terkait pembiayaan pendidikan, bagaimana peran dermawan?

Sudah saatnya penguatan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) terus dipacu. Sejatinya kaum aghniya berperan serta secara agamis mendukung sum- ber daya pendidikan. Dana ZIS yang diserahkan kepada Baitul Mal digu- nakan untuk dunia pendidikan.
Para dermawan sangat men- dukung keberlangsungan dunia pendidikan. Begitu juga dengan Pemerintah Aceh. Ada program Aceh Carong, untuk menuju ke manusia cerdas salah satu dan satu-satunya jalan ada- lah dunia pendidikan.

Di Aceh, sudah saatnya pemerintah memetakan potensi sumber daya alam, misalnya dalam dunia migas berpotensi 10 hingga 20 tahun akan datang. Kemu- dian sumber daya manusia dikirimkan belajar keluar ke Eropa atau Timur Tengah belajar migas.

Kalau berbicara sistem syariah, apakah ada kaitannya dengan pendidikan?

Kita masih terbatas pakar- pakar dalam ekonomi syariah. Perlu direkrut warga yang sangat potensial mendukung ekonomi syariah, ekonomi sosial, supaya mereka bisa menata ekonomi Aceh secara lebih modern. Ini harus didukung oleh pemerintah atau lembaga lainnya dari para dermawan, Baitul Mal dengan teknis-teknis dan perundangan yang berlaku.

Lantas, apa langkah lainnya yang harus kita tempuh?

Seharusnya, untuk mengelola pendidikan 5 juta orang dengan potensi alam yang ada, Aceh seharusnya lebih hebat 5-10 tahun yang akan datang. Seharusnya ada blue print pendidikan Aceh mau ke mana. Coba kita buat konsep-konsep pendidikan yang futu ristic educational sehingga warga menikmati dunia pendidikan itu. Nah, kalau lembaga penidikan internal di Aceh perlu kita lengkapi fasilitas-fasilitas pendidikan yang modern. Kalau persoalan keislaman, kita juga unik, Aceh sebagai gerbang pintu gerbang Islam nusantara, saya pikir kajian Islam secara kemodernan, bagaimana Islam itu bisa maju.

Terakhir, selama ini BMA sudah berkontribusi untuk pendidikan dengan membuat program pemberian beasiswa penuh kepada hafiz, santri dayah, dan beasiswa penuh satu keluarga satu sarjana, bagaimana tanggapan Prof?

Aceh punya sumber daya manusia yang cerdas dan responsible dengan pengembangan pengetahuan ke depan. Karena itu harus ada pemetaan potensi dalam bidang apa saja yang signifikan bagi pengembangan sumber daya manusia dan pengolahan sumber daya alam Aceh ke depan yang memerlukan tenaga kreatif. Pemberian beasiswa menurut hemat saya harus terukur antisipatif untuk keperluan Aceh ke depan karena itu beasiswabukanbersifatpragmatisnamun pemberian tepat berdaya guna untuk Aceh dan tentu saja secara personal yang memperoleh kesempatan itu.[]