Progres Pembangunan Huntara untuk Isma Wati Sudah Rampung 90 Persen

Progres Pembangunan Huntara untuk Isma Wati Sudah Rampung 90 Persen

Banda Aceh – Pembangunan satu unit hunian sementara (huntara) untuk Isma Wati (35), korban kebakaran di Gampong Lam Hasan, Peukan Bada, Aceh Besar sudah mencapai 90 persen. Diprediksikan akan rampung sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1442 Hijriah.

Kepala Bagian Pemberdayaan Baitul Mal Aceh, Arif Arham yang turun langsung ke lokasi mengatakan, rumah yang dibangun dari dana zakat para muzaki Baitul Mal Aceh itu seluas 6x 4,5 meter persegi. Hingga hari ini, 5 April 2021, pembangunan huntara tinggal pemasangan jendela, pintu, dan septic tank.

“Insyaallah apabila sudah rampung hingga 100 persen, langsung kita serah terima secara resmi dari Baitul Mal Aceh kepada keluarga Bu Isma Wati agar dapat ditepati saat bulan Ramadan nanti,” ungkap Arif di sela-sela peninjauan.

Seperti diberitakan sebelumnya, huntara ini merupakan bantuan tahap lanjut dari Baitul Mal Aceh. Sebelumnya, pascamusibah yang menghanguskan seluruh harta bendanya pada Rabu (17/2/2021) lalu, Isma Wati juga menerima bantuan masa panik sejumlah Rp3 juta dari BMA.

Bantuan awal ditujukan untuk membantu keluarga korban di masa panik. Kemudian, tim amil turun untuk mengkaji kondisi faktualnya lebih lanjut. Dari hasil kajian itu diputuskan untuk membangun huntara ini.

Pembangunan huntara dilakukan setelah mempertimbangkan keadaan Isma Wati yang berstatus sebagai ibu tunggal dua anak, berpenghasilan di bawah upah minimum regional, belum memiliki hunian pribadi, harta bendanya terbakar habis, serta tidak memiliki sanak keluarga yang mampu menyediakan tempat tinggal.

Rumah yang ia tempati saat musibah terjadi adalah rumah sewa kategori shelter. Isma Wati memiliki sepetak tanah atas nama pribadi yang dapat digunakan sebagai lahan huntara.

Skema bantuan yang diterapkan adalah dengan memberikan dana tunai yang ditransfer langsung ke rekening mustahik (penerima manfaat). Dana disalurkan dalam dua tahap, 50% sebelum pembangunan dan 50% sisanya setelah huntara selesai. Mustahik menggunakan dana tersebut untuk membangun huntara secara swadaya.

Untuk memastikan dana tersebut berdampak secara optimal, BMA bermitra dengan aparat desa dan menunjuk geusyik setempat sebagai pengawas langsung.

Sementara itu, Isma Wati mengaku sangat membutuhkan huntara ini. “Saat ini saya menumpang di rumah warga yang kebetulan kosong. Tapi sebentar lagi pemiliknya mau pulang. Syukur ada huntara ini, sudah tahu kami mau pulang ke mana nanti,” ucap Isma Wati.

[Hayatullah].