BMA, DSI, dan DPDA Bersinergi Bina Mualaf

BMA, DSI, dan DPDA Bersinergi Bina Mualaf

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA), Dinas Syariat Islam (DSI), dan Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPDA) duduk bersama bersinergi membicarakan pembinaan mualaf di Aceh. Duduk bersama ini sekaligus mencari solusi atas kondisi mualaf di Aceh hari yang sering mendapat keluhan baik dari segi ekonomi maupun tantangan kembali ke agama sebelumnya.

Pertemuan tersebut telah terlaksana sebanyak dua kali di Aula BMA. Dari DSI hadir langsung Kepala Dinas, Dr Emka Alidar dari DPDA hadir Kasi Kerja Sama antar Lembaga, Muhammad Dewi, dan dari BMA hadir Ketua Badan, Prof Nazaruddin A Wahid, Anggota Badan, A Rani Usman, Mukhlus Sya’ya, Khairina, dan Kepala Sekretariat, Rahmad Raden.

Pada pertemuan pertama, Ketua Badan, Prof Nazaruddin A Wahid mengatakan ada beberapa hal yang bisa dilakukan sinergisitas. BMA sebagai penyokong dana, Dinas Dayah sebagai lembaga penampung, sedangkan DSI berkontribusi terkait data dan pembinaan melalui dai perbatasan.

“Langkah ke depan ada beberapa kerangka yang harus kita lakukan yaitu dengan pendataan objek, BMA, DSI dan Dinas Dayah punya kemampuan untuk melakukan potensi survei para mualaf yang harus lengkap mengenai data mualaf dinilai dari jumlah kuantitatif, jumlah kualitatif kemampuan mualaf dalam sosial agama dan kemasyarakatan, kemudian menyusun langkah pertama, yaitu pembinaan,” ungkap Prof Nazar

Sementara itu, Kadis Syariat Islam Dr Emka mengatakan pihaknya siap mendukung program pembinaan mualaf di Aceh. Pihaknya memiliki 200 orang dai perbatasan yang tersebar di perbatasan Aceh seperti Singkil, Subulussalam, Simeulue, Tamiang, dan Aceh Tenggara.

“Nanti akan kita komunikasi dengan dai di perbatasan yang dapat dijangkau untuk dilakukan pembinaan, khususnya mualaf yang baru masuk Islam di bawah tiga tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, Baitul Mal Aceh sendiri memiliki beberapa program yang bersentuhan langsung dengan mualaf. Selama ini sudah banyak mualaf yang telah diberdayakan baik secara ekonomi maupun pemberdayaan pendidikan bagi anak-anaknya.

“Kami terus menggali potensi zakat. Kalau angka besar bisa kami bantu lebih banyak, namun sementara untuk program sinergi ini bisa kita bina minimal satu kabupaten dulu misalnya singkil, tehun selanjutnya dan mendapatkan zakat lebih besar, kita terus ke kabupaten lain,” kata Rahmad.

Rahmad menambahkan, untuk sementara BMA bisa memberikan santunan bulanan, beasiswa untuk anak-anak mereka, dan bantuan peralatan ibadah seperti beli sarung. Begitu juga untuk bantuan alat kerja nanti bisa kita prioritaskan kepada mualaf.

Sementara itu, dari pihak DPDA siap menampung anak-anak muallaf di dayah-dayah perbatasan di bawah binaan mereka. Saat ini hampir di setiap perbatasan Aceh memiliki dayah yang langsung di bawah kendali DPDA.

[Hayatullah]