AMIL DALAM PANDANGAN ULAMA FIKIH DAN TAFSIR

AMIL DALAM PANDANGAN ULAMA FIKIH DAN TAFSIR

OLEH: DR. ANALIANSYAH, M.AG

Tulisan ini menjelaskan pengertian amil yang terdapat dalam surat at-Taubah ayat 60, yaitu ayat yang menjelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima zakat. Pengertian amil di sini merujuk kepada pendapat ulama fikih empat mazhab, yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Selain itu, merujuk pula kepada pendapat empat ulama tafsir, yaitu Ibnu Jarir Ath-Thabary, al-Qurthuby, Rasyid Ridha dan Muhammad ‘Ali al-Sais.

Amil merupakan isim fāil dari: amila – yamalu, amalan, yang secara leksikal berarti “bekerja”, sedangkan Amil adalah orang yang bekerja. Bila disebut: kaana aamilan lahu alash shadaqah (orang yang bekerja untuk urusan shadakah/zakat). Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan keluasan maknanya, seperti terlihat berikut ini.

  1. Fikih Empat Mazhab
  1. Mazhab Hanafi

Menurut mazhab Hanafi, amil adalah adalah orang-orang yang dipekerjakan oleh imam untuk mengumpulkan zakat. Amil merupakan sinonim dari al-sai. Lafat ini bermakna orang yang ditugaskan oleh imam pada kabilah-kabilah untuk mengambil zakat dari mereka. Mazhab Hanafi hanya menggambarkan bahwa amil adalah petugas yang diangkat oleh imam untuk mengumpulkan zakat dari muzakki (wajib zakat) saja. Mazhab ini, meski tidak menyebutkan secara jelas pekerjaan amil bukan hanya sekedar mengumpulkan zakat, tetapi juga meliputi beberapa pekerjaan lain, seperti menjaga, mengurus administrasi dan mendistribusikannya, namun sudah termasuk di dalam rumusan tersebut.

Untuk menguatkan makna amil yang mereka buat, mazhab Ḥanafi tidak mencantumkan dalil, baik nas maupun logika. Berat dugaan rumusan amil yang diberikan hanya berdasarkan pada makna kebahasaan semata, seperti terlihat dari arti bahasa yang disebutkan di atas. Namun hanya terpaku pada makna tertentu saja, seperti terlihat dalam makna amil yang disebutkan di atas.

  1. Jumhur ulama, yaitu mazhab Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali

Pengertian amil menurut jumhur ulama adalah petugas yang mengurus segala permasalahan zakat, seperti orang yang memungut dan mengumpulkan zakat, menulis jumlah masuk dan keluar, berapa sisa serta, pemelihara harta zakat, serta membagikannya kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat).

Jumhur ulama, dalam menguatkan pendapatnya, tidak mencantumkan dalil nas maupun logika, sehingga berat dugaan mereka menetapkan rumusan amil berdasarkan pemahaman kebahasan dan fungsinya sebagai pengurus zakat. Sebagaimana diketahui bahwa fungsi pengurus zakat bukan hanya mengambil zakat dari muzakki, namun juga menghimpun, menjaga, dan mendistribusikannya kepada para mustahiq. Bedanya dengan mazhab Hanafi, jumhur menyebutkan dalam rumusannya dengan jelas bahwa ke dalam lafat amil masuk segala aktifitas yang  berkaitan dengan pengelolaan dan pendistribusian zakat. Perluasan makna amil kepada beberapa makna lain tampaknya masih dianggap cakupannya.

Perbedaan lain antara mazhab Hanafi dan jumhur adalah mazhab Hanafi menyebutkan bahwa amil ditunjuk oleh imam/penguasa kaum muslimin. Jumhur ulama tidak menyebutkan bahwa amil ditunjuk oleh imam. Kita bisa memahami penjelasan ini dengan mengatakan bahwa menurut mazhab Hanafi seyogyanya amil diangkat oleh imam/penguasa dan tidak diangkat oleh masyarakat, seperti yang pernah dilakukan Nabi dan Khulafaurrasyidin. Sedangkan menurut jumhur, amil dapat saja diangkat oleh imam atau oleh masyarakat, seperti banyak dipraktikkan dewasa ini. 

  1. Ulama Tafsir

Beralih kepada konsep amil menurut ulama tafsir, di bawah dikutip pendapat empat ulama tafsir, yaitu Ibn Jarir ath-Thabary dalam Tafsir Ath-Thabary, al-Qurtubi dalam Tafsir al-Qurthiby, Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar, dan Muhammad Ali al-Sais dalam Tafsir Ayat Ahkam.

  1. Menurut Ibn Jarir al-Thabary

Menurut Ibn Jarir al-Thabary, amil  adalah pemungut zakat dari muzakki dan membagikannya kepada mustahiq zakat. Kepada mereka diberi zakat karena pekerjaannya itu. Tidak dipermasalahkan apakah dia kaya atau miskin. Untuk menguatkan pendapatnya ini, beliau mengutip pendapat ahl al- ‘ilm dan bahasa, seperti al-Zuhry dan Qatadah.

Makna amil yang diberikan oleh al-Thabari ini sangat sederhana. Amil hanya dipahami sebagai pemungut zakat dari muzakki dan membagikannya kepada mustahiqnya. Penulis tidak menemukan penjelasan, apakah lafadh amil dapat mencakup makna yang lebih luas atau tidak. Selain itu penulis juga tidak menemukan dalil yang beliau gunakan untuk mendukung makna amil ini. Berdasarkan penjelasan yang ada, tampaknya Thabary merumuskan makna amil hanya berdasarkan kepada pemahaman lughawy (kebahasaan).

  1. Menurut al-Qurthuby, Rasyid Ridha dan Muhammad ‘Ali al-Sais

Menurut al-Qurthuby, amil adalah petugas pengumpul zakat yang dtugaskan oleh imam untuk mengambil zakat. Hal ini berdasarkan apa yang pernah dilakukan oleh Nabi, sebagaimana riwayat Bukhari dari Abu Humaid al-Sa‘idy, yang artinya: Dari Abi Humaid al-Sa‘idy ra. beliau berkata: Rasulullah saw mempekerjakan seorang laki-laki dari bani Asad untuk mengambil sedekah (zakat) bani Sulaim yang dipanggil Ibnu al-Latbiyyah ketika datang dia menghitungnya. (HR. Bukhari)

Al-Qurthuby menambahkan, makna yang tercakup dalam lafadh al-amilin alaiha sangat luas. la meliputi semua orang yang terlibat dalam mengurus permasalahan zakat. Termasuk di dalamnya pengumpul, penulis, penjaga, pembagi dan lain-lain yang berkenaan dengan pengurusan zakat. Pendapat al-Qurthuby ini bersesuaian dengan pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad ‘Ali al-Sais.

Dalam memberikan cakupan makna amil, yaitu meliputi orang-orang yang mengurus masalah zakat, baik pengumpul zakat, penulis, penjaga, pembagi dan lain-lain, ketiga ulama ini tidak menampilkan dalil naṣ yang menunjukkan kepada makna tersebut. Tampaknya makna amil ini hanya berdasarkan pernahaman lughawy (kebahasaan) semata. Mereka berpendapat, cakupan makna amil sangat luas, yaitu meliputi semua orang yang mengurus permasalahan zakat.

Memperhatikan pendapat ulama fiqh dan ulama tafsir di atas dapat diketahui bahwa penetapan makna amil, adalah berdasarkan nas (al-Qur’an dan hadis) dan bahasa. Sehingga makna amil dalam ayat 60 surat al-Taubah adalah khusus untuk orang yang ditugaskan oleh imam sebagai pemungut dan pembagi zakat. Kemudian sebagian ulama membatasi maknanya kepada pengumpul dan pembagi zakat saja, sedang sebagian ulama lagi memperluas cakupan maknanya, yaitu meliputi semua orang yang terlibat dalam penanganan zakat; baik pengumpul, penulis; penjaga dan pembagi maupun yang lainnya. (Wallahu a’lam bishshawab).