Entaskan Kemiskinan melalui Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana

Entaskan Kemiskinan melalui Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana

 

Pepatah usang mengatakan, jika ada kemauan pasti ada jalan. Man jadda wajada, begitu pula disebutkan dalam pepatah Arab. Jika seseorang  menginginkan sesuatu, mestilah ia berusaha dengan gigih dan disertai dengan doa.

Reporter: Hayatullah Pasee

Yusfa, begitu gadis bernama lengkap Ismawardi Yusfa biasa disapa. Ia tak pernah menyangka jika empat tahun ke depan bisa kuliah gratis di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Ia tak henti-henti mengucapkan hamdallah (alhamdulillah) ketika ia diberitahu bahwa ini lulus seleksi tim verifikasi Beasiswa.

Gadis yang masih duduk pada smester pertama di jurusan PBI (Pendidikan Bahasa Inggris), Fakultas Tarbiyah ini merupakan salah satu penerima bantuan beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) dari Baitul Mal Aceh. Hari-hari ke depan ia dan kerluarganya tak perlu ambil pusing memikirkan SPP dan biaya kebutuhan lain selama kuliah.

Bagi Yusfa, Tuhan begitu adil, Allah maha mengetahui siapa saja yang benar-benar punya niat baik dan memiliki tekad yang tinggi untuk meraih pendidikan tinggi. Jika ia hanya mengandalkan gaji pensiunan orangtuanya yang hanya Rp.1,8 juta per bulan, tentu agak sedikit kesulitan mengingat ia juga memiliki seorang adik yang masih duduk di bangku sekolah.

“Untuk biaya keberangkatan dan biaya SPP smester pertama kemarin saja masih berhutang sama saudara,” katan mahasiswi asal Kruengeukueh itu.

Menurut hasil survei tim verifikasi Baitul Mal Aceh, Yusfa berhak mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari dana zakat tersebut. Selain berasal dari keluarga kurang mampu, ia juga mahasiswi berprestasi. Bahkan, ia sudah pernah naik haji, namun bukan dengan biaya sendiri atau dari orangtua, melainkan bantuan dari kerajaan Arab Saudi.

Sejak SMP ia sering meraih prestasi di kelasnya, dan pula, ia aktif di berbagai organisasi, baik di Pramuka maupun Rohani Islam (Rohis). Ia berharap dengan bantuan beasiswa ini lebih memotivasi dirinya ke depan dan lebih giat lagi dalam berusaha menggapai cita-citanya.

“Dulu saya pernah bercita-cita menjadi dokter, namun terkendala dengan berbagai hal, di samping itu saya juga sangat ingin jadi dosen Bahasa Inggris, akhirnya saya ambil jurusan bahasa Inggris,”ungkapnya.

Ia berdoa semoga zakat di Baitul Mal Aceh terus bertambah setiap tahunnya, sehingga tidak hanya dirinya bisa memperoleh beasiswa, melainkan agar orang-orang lain lebih banyak lagi bernasib baik seperti dirinya.

***

Satu Keluarga Satu Sarjana

Mulai tahun ini, Baitul Mal Aceh (BMA) memberikan beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) kepada mahasiswa pada dua Universita yaitu Unsyiah dan Uin Ar-Raniry yang berasal dari keluarga miskin. Beasiswa tersebut akan menanggung secara penuh biaya kuliah hingga selesai sarjana.

Pemberian beasiswa tersebut ditandai dengan penandatanganan naskah kerjasama atau Momerendun of Understanding (MoU) antara Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA dengan kedua rektor universitas tersebut.

“Untuk saat ini Baitul Mal Aceh baru mampu memberikan kepada 96 mahasiswa, dengan rincian untuk UIN  dan Unsyiah masing-masing 48 mahasiswa,” kata Armiadi di sela-sela penandatanganan MoU beberapa waktu lalu di Ruang Rapat Rektor UIN Ar-Raniry.

Ia menjelaskan, beasiswa jenis ini merupakan program baru Baitul Mal Aceh tahun 2016 sebagai upaya pengentasan kemiskinan di Aceh dan menurunkan angka putus sekolah. Jika program ini sukses maka Baitul Mal akan terus meningkatkan jumlah penerimanya.

Untuk program ini, tahun pertama Baitul Mal Aceh menganggarkan dana sebesar Rp 1,2 milyar. Besaran nominal yang akan diperolah setiap mahasiswa nantinya berdasarkan kebutuhan dan standar kedua universitas negeri tersebut yaitu meliputi biaya SPP, uang jajan, dan biaya untuk tempat tinggal.

Armiadi menambahkan, dana yang diplotkan untuk program ini bersumber dari zakat, oleh karena ini calon penerima beasiswa ini harus betul-betul dari keluarga miskin. Untuk memastikan penerima tepat sasaran sudah menjadi tanggungjawab Baitul Mal Aceh akan menverifikasi kelayakannya.

“Semoga beasiswa ini betul-betul bermanfaat dan lulusannya kita harapkan menjadi sarjana pelopor pemberdayaan masyarakat dan duta zakat, sehingga semakin banyak muzakki yang menyetor zakat ke Baitul Mal,” ujarnya Armiadi lagi.

Sementara itu, Prof Farid Wajdi Ibrahim selaku Rektor UIN Ar-Raniry menyampaikan apresiasi kepada Baitul Mal Aceh yang selama ini telah memberdayakan zakat tidak hanya untuk konsumtif saja, melainkan sudah ke tahap produktif.

Menurutnya upaya tersebut merupakan langkah yang tepat dalam memutus mata rantai kemiskinan di Aceh, karena jika bantuan diberikan dalam bentuk habis pakai, maka kemiskinan akan terus bertambah, bahkan lebih parah.

“Hampir rata-rata yang kuliah di UIN itu mahasiswa kurang mampu dari berbagai daerah, jadi dengan adanya program seperti ini sangat membantu mereka yang ekonomi keluarganya di bawah rata-rata,” ujarnya.

Prof Farid berharap, selain perlu ditingkatkan terus kuota untuk beasiswa ini, ke depan kalau memungkinkan perlu juga diberikan untuk mahasiswa tingkat master untuk keilmuan-keilmuan khusus seperti ilmu falak.

“Di Aceh tidak ada lagi regenerasi yang menguasi ilmu falak, sekarang orang sudah dimanjakan dengan google di smartphone masing-masing, sedangkan ilmu tersebut semakin punah kalau tak ada yang mempelajarinya.” Tutup Farid.[]

Tulisan ini sudah dimuat di tabloid Berita Merdeka