Zakat Berdayakan Ummat

Zakat Berdayakan Ummat

Oleh Sayed Muhammad Husen

Tema Rapat Kerja (Raker) Baitul Mal se Aceh tahun ini tentang “Zakat Berdayakan Ummat” pada 15-17 November 2017 menarik perhatian saya. Tema ini begitu penting untuk memberi perspektif baru pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) di Aceh. Selama ini pendistribusiannya lebih dominan bersifat konsumtif dan karitatif.

Raker yang diikuti para Kepala Baitul Mal Kab/Kota (BMK), Kepala Sekretariat BMK dan unsur Baitul Mal Aceh (BMA) mengupas tiga makalah kunci: Strategi dan Sinergi Pemerintah Aceh dalam Penanggulangan kemiskinan, Best Practice Baitul Mal dalam Penanggulangan Kemiskinan dan Perspektif Syariah Pendayagunaan Zakat.

Satu rumusan keputusan Raker yang saya anggap terobosan baru pengelolaan ZISWAF di Aceh adalah kesepakatan penggunaan dana ZIS untuk program pengembangan masyarakat atau ZIS Community Development (ZIS-CD). Program ini diyakini dapat memperbesar kontribusi ZIS dalam penanggulangan kemiskinan.

Selama ini, Baitul Mal telah mendayagunakan ZIS yang dianggap berdampak secara langsung atau tidak terhadap penurunan angka kemiskinan melalui beberapa kegiatan seperti pelatihan/kursus keterampilan, penyediaan peralatan kerja, pembangunan/rehab rumah fakir miskin, penyediaan modal usaha tanpa bunga, beasiswa, dan kegiatan lainnya.

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan oleh Baitul Mal terus ditingkatkan dengan pendekatan sinergis dalam hal basis data dan koordinasi dengan instansi terkait. Demikian juga perlu dipastikan pengukuran berapa persen kontribusi ZIS terhadap penurunan kemiskinan di Aceh. BMA menargetkan kontribusi  ZIS 10% dari target Pemerintah Aceh.

Saya berkeyakinan, Pemerintah Aceh (baca: Bappeda) akan memperkuat peran Baitul Mal dalam penanggulangan kemiskinan, mengingat potensi ZIS yang cukup besar. Dari potensi zakat Aceh Rp1,4 triliun, Baitul Mal telah menghimpun hampir Rp300 miliar setahun. Angka ini masih dapat ditambah dengan penyetoran zakat yang belum terdata dan dibayar masing-masing muzakki.

Dari arena Raker Baitul Mal baru-baru ini, saya merasakan tantangannya juga cukup berat. Secara internal pengurus Baitul Mal masih mengandalkan pendistribusian ZIS secara konsumtif dan karitatif. Persentase program dan kegiaan ZIS yang bersifat pemberdayaan dan produktif masih cukup kecil.

Tantangan  eksternal datang dari masyarakat yang juga lebih mengharapkan disalurkan secara tradisional. Berapapun ZIS yang terkumpul habis seluruhnya dibagi-bagi dalam bentuk konsumtif dan karitatif. Hampir tak ada bagian untuk pemberdayaan ekonomi dan pengembangan masyarakat. Belum bagus juga sinergi antar instansi terkait.

Untuk itu, menindaklanjuti keputusan Raker masih perlu dilakukan edukasi syariah tentang ZIS produktif dan ZIS-CD.  Pengurus Baitul Mal seluruhnya perlu mendapatkan landasan syariah yang kuat bahwa ZIS dapat digunakan untuk penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas. Dengan cara ini ZIS akan lebih efektif untuk mengubah status masyarakat dari miskin menjadi kaya.

BMA perlu merencanakan dengan baik program ZIS-CD, sehingga dapat dilaksanakan pada tahun 2018. Beberapa persiapan harus dilakukan segera misalnya konsultasi degan BAZNAS tentang Panduan ZIS-CD, studi kelayakan lokasi, pelatihan, rekrutmen pendamping, dan perencanaan biaya operasional.

Saya berharap, kita semua (baca: amil) berpikir progresif, sehingga ZIS yang kita kelola dapat berdampak terhadap perubahan status mustahik menjadi muzakki. Esensi ZIS adalah media problem solving terhadap masalah-masalah ummat, yang salah satu masalah berat kita hadapi di Aceh: penanggulangan kemiskinan. Sungguh tak mungkin kemiskinan berkurang hanya dengan bagi-bagi zakat.

Lampanah, 18 Nopember 2017/29  Shafar 1439