Baitul Mal Aceh Gelar FGD Filantropi Islam

Baitul Mal Aceh Gelar FGD Filantropi Islam

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) bekerjasama dengan Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan FGD tentang fenomena aktivitas filantropi masyarakat muslim di Aula BMA Jalan T. Nyak Arief Komplek Keistimewaan Aceh, Senin (8/1/2018).

FGD ini diikuti perwakilan dari berbagai lembaga diantaranya perwakilan lembaga zakat, perwakilan ormas, perwakilan CSR, perwakilan lembaga wakaf, perwakilan mesjid, perwakilan akademisi serta peneliti. Sedangkan dari unsur pemerintah juga hadir Dinas Sosial, Bappeda Aceh serta Kanwil Kemenag Aceh.

Tujuan kegiatan ini untuk memotret perkembangan filantropi masyarakat muslim Indonesia khususnya di Aceh. Selain itu juga untuk menggali informasi terkait aktifitas dan kinerja lembaga filantropi yang ada di Aceh.

Direktur STF, DR. Amelia Fauzia, menyampaikan bahwasannya diskusi yang diadakan ini merupakan kegiatan untuk menghasilkan rekomendasi bagi para stakeholder dalam mewacanakan praktek filantropi mengarah kepada terciptanya keadilan sosial bagi masyarakat.

Dia menambahkan beragam kegiatan filantropi yang dilakukan seperti pemberian beasiswa, pinjaman dana bergulir serta bantuan lainnya membutuhkan penelitian bagaimana fenomena praktek ini sejalan dengan visi misi pemerintah dan berkeadilan sosial.

“Masyarakat muslim Indonesia dari dulu sudah menjalankan organisasi amal untuk memberikan bantuan sebagai kendaraan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan. Pada era ini telah terjadi transformasi pada organisasi-organisasi amal tersebut menjadi lebih modern. Pertanyaan yang muncul apakah perkembangan ini mengatasi akar penyebab ketidakadilan sosial dan ekonomi di masyarakat,” kata Dr Amalia.

Sedangkan Kepala BMA, Zamzami Abdulrani, S.Sos, dalam sambutannya berterima kasih kepada STF yang telah memberikan kepercayaan kepada BMA dan memilih Porpinsi Aceh untuk dijadikan sampel dalam meneliti fenomena manfaat filantropi.

“Dalam rapat kerja Baitul Mal tahun lalu, kami dari BMA berkomitmen untuk berkontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan di Aceh sebesar 1%. Dan Baitul Mal sangat focus untuk terus meningkatkan nilai manfaat ZIS yang dikelola kearah yang lebih baik”, katanya.

Zamzami juga menyambut baik kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman dan modernisasi pengelolaan filantropi Islam yang berkemajuan dan berkeadilan.

Sementara itu Ketua Dewan Pertimbangan Syariah BMA, Prof. Alyasa Abubakar, juga memberikan pandangan tentang diperlukannya dukungan pemerintah karena organisasi filantropi selama ini mampu memberikan alternatif dalam membantu pemerintah menciptakan kesejahteraan sosial.

“Harus ada kebijakan negara dan kebijakan politik dalam melaksanakan aktifitas filantropi seperti sekarang ini. Dukungan penguasa dibutuhkan agar lembaga seperti ini terus berkesinambungan. Kalau perlu diberikan kewenangan lebih besar kepada Baitul Mal untuk mengaturnya”, tutupnya.[]