Dampak Zakat Produktif

Dampak Zakat Produktif

Perintah membayar zakat sering Allah sebutkan bergandengan dengan perintah salat dalam Alquran. Sedikitnya ada 24 tempat ayat Alquran menyebutnya. Artinya, perintah berzakat dengan salat serta rukun Islam lainnya memiliki kedudukan yang sama.

Seperti dalam Alquran Surah Albaqarah Allah berfiman:“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).

Selanjutnya dalam ayat lain juga disebutkan:“Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 110).

Zakat secara etimologi berarti bersih, suci , subur, berkah dan berkembang.  Secara terminologi zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat – syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada orang – orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan orang yang berhak menerima zakat.

Salah satu intrumen zakat yaitu untuk pemberdayaan umat. Zakat diharapkan mampu mentransformasikan seorang mustahik (yang berhak menerima zakat) menjadi muzaki (yang sudah berkewajiban membayar zakat).

Untuk mewujudkan harapan tersebut tentu sangat berpengaruh besar pada pengelola zakat itu sendiri. Dalam pengelolaan zakat sejatinya perlu memperbanyak program-progam dalam bentuk produktif. Artinya mustahik diberikan bantuan yang tidak habis pakai. Mengutip penyataan Prof Al Yasa Abu Bakar, mereka jangan diberikan ikan (konsumtif) melainkan pancing (produktif).

Kita patut mengapresiasi hari ini Baitul Mal Aceh dan Kabupaten/Kota memiliki beberapa program yang produktif. Program-progam tersebut dikemas dalam beberapan bentuk, ada dalam bentuk beasiswa, pelatihan life skill, dan pemberian modal usaha, serta pemberdayaan Baitul Mal Gampong (BMG).

Baitul Mal Aceh sejak tahun 2012 telah  menganggarkan dana milyaran rupiah untuk permberdayaan ekonomi masyarakat melalui BMG. Tahun 2016, Baitul Mal Aceh membantu 20 BMG. Setiap BMG diberikan dana sebesar 30 juta. Sedangkan pada tahun 2017 hanya diberikan untuk 10 desa, namun dananya ditambah menjadi 50 juta rupiah per gampong.

Hingga tahun 2017 Baitul Mal Aceh telah membantu 74 gampong dalam progam Bantuan Modal Usaha Untuk Masyarakat Miskin Melalui Baitul Mal Gampong. Program ini dibuat untuk pemberdayaan fakir miskin yang memiliki potensi namun tidak memiliki modal. Lebih diutamakan lagi desa yang memiliki ciri khas produk yang bisa dikembang untuk dijadikan unit usaha milik desa.

Desa-desa yang telah dibantu Baitul Mal Aceh memiliki keberagaman jenis usaha, di antaranya; budidaya nilam, jahe, penggemukan sapi, ternak kamping, dan beberapa usaha lainnya. Bahkan di  kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat Baitul Mal Aceh pernah memberikan bantuan alat kerja pengolahan eceng gondok untuk menghasilkan kerajinan kepada masyarakat di sana.

Informasi yang diperoleh Baitul Mal Aceh, pendapatan mereka sudah meningkat dari biasanya. Hal tersebut merupakan sebagai bukti bahwa pemberdayaan dana zakat dengan cara produktif memberikan hasil yang nyata dibandingkan memberikan bantuan konsumtif.

Program produktif lainnya untuk jangka panjang adalah beasiswa. Baitul Mal Aceh setiap tahun menngelontorkan dana zakat untuk memberikan beasiswa kepada putra-putri Aceh, baik melalui program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) maupun beasiswa penuh tahfiz.

Keduanya memiliki hubungan yang erat, di mana generasi harus mampu bersaing secara global, di sisi lain mereka juga memiliki pondasi agama yang kuat. Sehingga pakar-pakar dari keilmuan apapun diisi oleh sarjana-sarjana muslim yang kokoh dari segi aqidah. (Hayatullah)